Tempat bersejarah di Bumi Manggala lampung

Sabtu, 22 Oktober 2011
tempat bersejarah di menggala
BERBAGAI jejak yang masih bertakhta meneguhkan bahwa Menggala memang kota tua di Lampung. Banyak tempat dan tilas-tilas di bantaran Way Tulangbawang itu masih menyimpan cerita yang menyejarah.

Aspek menonjol pada peninggalan sejarah salah satunya adalah arsitektur. Mencermati rumah-rumah panggung di Menggala selintas mirip denagan rumah-rumah bangsawan Jawa tempo dulu. Terbuat dari kayu tembesu yang panjang mencapai 20 meter menambah eksotis rumah panggung keluarga Warganegara.
Di beranda yang luas kita akan disambut beberapa furnitur khas awal abad ke-18 dan 19. Di antaranya kursi kayu dan beberapa perabot rumah tangga. Yang unik adalah tempat untuk meletakkan topi dan tongkat menir-menir Belanda pada masa kolonial. Selain itu, ada sebuah kursi putar yang terbuat dari kayu yang semakin menambah lengkap nuansa klasik tempo dulu.

Menurut catatan tertulis yang terdapat di rumah bersejarah tersebut, terahir kali direnovasi oleh Pangeran Warganegara IV pada tahun 1879. Setelah itu dilakukan perbaikan, tapi tidak mengubah bentuk dan keaslian bangunan, bila masuk ke dalam rumah kita akan disambut dengan pepadun Sutan Ngukup (Pangeran Warganegara IV) yang dibuat pada abad ke-19 serta beberapa benda lainnya seperti talam pemenganan bertarikh tahun 1650—1727 (semacam talam untuk makan) milik Krio Warganegara (Menak Kesuhur) yang merupakan leluhur dari Pangeran Warganegara IV (1852-1927).

Selain itu tak jauh dari rumah Warganegara terdapat sebuah Masjid Agung Kibang yang telah mengalami beberapa kali pemugaran dan didaulat sebagai masjid tertua di Lampung. Kemudian Juga Tangga Raja, yang konon merupakan tempat sandar dan tempat menaiki perahu bagi raja-raja Tulangbawang. Menurut sejarah, pada hari Minggu tanggal 1 Pahing bulan Syakban 1194 H (awal abad ke-18) di Kibang, Menggala, Pangeran Warganegara I, Pangeran Anggadijaya, Pangeran Saja Laksana, Pangeran Wirajaya dan Natadiraja (mereka berlima adalah penggawa Lima Tulangbawang) dibantu oleh Pangeran Muterjagad, Pangeran Robbana, dan Marga Liyu mendirikan Masjid pertama di Desa Kibang, Menggala.
Masjid tersebut berbentuk pangung bertiang terbuat dari papan dan kayu yang dikerjakan secara gotong royong oleh penduduk Kibang. Masjid sederhana ini diresmikan tepat pada 1 Syawal 1194 H, tepatnya hari Rabu dengan Marbot H. Ratu Bagus Mujahidin. Sedangkan Imam pertama Syekh Zulaipah dan beberapa orang ustaz, seperti Tuan Alim, Tubagus M. Ali.

Tahun 1825 asisten residen Du Bois memerintahkan agar Kota Menggala dibangun. Tak luput Masjid Kibang harus dipindahkan ke Kibang Libou dan pada 1829 dibangun Masjid Kibang. Masjid Agung Kibang diresmikan tahun 1830 dengan Marbot pertama H.M. Thahir Banten. Menara Masjid Agung Kibang dibangun tahun 1913 M (1332 H) dan dipugar tahun 1938 (1357 H) dengan ketua panitia Pangeran Warganegara V (cucu dari Pangeran Warganegara IV/Sutan Ngukup), Sekretaris M. Umar, Keuangan H.M. Said. Setelah itu atau lebih tepatnya pascakemerdekaan sudah beberapa kali masjid ini mengalami renovasi. Tempat terakhir adalah Tangga Raja. Menurut hikayat masyarakat setempat, Tangga Raja adalah sebuah tangga atau jalan setapak yang dahulu kala dipakai oleh raja-raja Tulangbawang untuk turun ke perahu dan berlayar. Posisi Tangga Raja memang tepat berada di hilir Sungai Tulangbawang.

0 komentar (Tempat bersejarah di Bumi Manggala lampung)

Poskan Komentar

Mohon berkomentar sesuai topik posting di atas !